Senin, 20 Juni 2016

Niat Adalah Kehendak Hati, Bukan 'Usholli...'

Kak satria ada gak hadist yang menyuruh kita melakukan ibadah shalat misalnya harus mengucap "ushholli...." Kata kakak saya itu tidak ada dalam hadist nabi, tapi saya blg setip melakukan ibadah kita kan harus berniat dulu. me

Assalamu'alaikum, bismillah...

Yang dimaksud niat adalah al qosd atau keinginan dan al irodah atau kehendak. Sedangkan yg namanya keinginan dan kehendak pastilah dalam hati, sehingga niat pun letaknya di dalam hati.

Ibnul Qayim rahimahullah mengatakan, "Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal wudhu tidak pernah mengucapkan "nawaitu rof’al hadatsi (aku berniat untuk menghilangkan hadats …)". Beliau pun tidak menganjurkannya. Begitu pula tidak ada seorang sahabat pun yg mengajarkannya. Tidak pula terdapat satu riwayat baik dengan sanad yg shahih maupun dha’if (lemah) yg menyebutkan bahwa beliau mengucapkan bacaan tadi." (Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/196, Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth dan ‘Abudl Qodir Al Arnauth, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-17, tahun 1415 H).

Lafadz niat sangat masyhur dinisbatkan kepada mazhab Syafi’i, hal ini karena Abu Abdillah Al Zubairi yg masih termasuk dalam ulama mazhab Syafi’i telah menyangka bahwa Imam Asy Syafi’i rahimahullah mewajibkan untuk melafadzkan niat ketika shalat.

Sebabnya adalah pemahamannya yg keliru dalam meng-interpretasi-kan perkataan Imam Syafi’i yakni redaksi sebagai berikut: "Jika seseorang berniat menunaikan ibadah haji atau umrah dianggap cukup sekalipun tidak dilafadzkan. Tidak seperti shalat, tidak dianggap sah kecuali dengan AL NUTHQ (diartikan oleh Al Zubairi dengan melafadzkan, sedangkan yg dimaksud dengan AL NUTHQ disini adalah takbir". (al Majmuu’ II/43)

Seorang ulama pembesar mazhab Syafi’i berkata: "Beberapa rekan kami berkata: "Orang yg mengatakan hal itu telah keliru. Bukan itu yg dikehendaki oleh As Syafi’i dengan kata AL NUTHQ di dalam shalat, melainkan yang dimaksud dengan AL NUTHQ oleh beliau adalah takbir." (al Majmuu’ II/43; lihat juga al Ta’aalaim :syaikh Bakar Abu Zaid:100).

Ibn Abi Izz Al Hanafi berkata: "Tidak ada seorang ulamapun dari imam 4 (madzhab), tidak juga Imam Syafi’i atau yang lainnya yang mensyaratkan lafadz niat. Menurut kesepakatan mereka, niat itu tempatnya dihati. Hanya saja sebagian ulama belakangan mewajibkan seseorang melafadzkan niatnya dalam shalat. Dan pendapat ini dinisbatkan sebagai mazhab Syafi’i. Sedangkan Itu tidak benar." (Al Itbaa’ :62)

Mari kita mencontoh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagai teladan,

"Sesungguhnya shalat seseorang tidak sempurna sebelum dia berwudhu’ dan melakukan wudhu’ sesuai ketentuannya, lalu ia mengucapkan Allahu Akbar." (Hadits diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad shahih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Apabila engkau akan mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhu lebih dulu kemudian menghadaplah ke arah kiblat, lalu ucapkanlah takbiratul ikhram." (Muttafaq 'alaih).

Dari Abdullah bin Umar ra ia berkata, "Aku melihat Nabi shallallahu 'alahi wa sallam memulai shalatnya dengan takbir, lalu mengangkat kedua tangannya." (HR. Bukhari no.738)

Wallahu a'lam bisshawab :)



Related Articles