Senin, 08 Agustus 2016
Penjelasan Zina Hati
Pertanyaan
Dari: Sri Wulandari.S
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh kak zina hati itu
gmna?
Jawaban:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh,
Maknanya dijelaskan dalam hadits
dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda (artinya), "Sesungguhnya Allah menetapkan
atas anak Adam bagian dari zina. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa
dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan
membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau
mendustakannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas menjelaskan kepada
kita hakikat zina hati yang dilakukan manusia. Membayangkan melakukan sesuatu
yang haram, yang membangkitkan syahwat, baik dengan lawan jenis maupun dengan
sejenis, itu yang disebut dengan zina hati.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam riwayat yang lain bersabda (artinya), "Mata itu berzina, hati juga
berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan
membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan
atau mendustakan semua itu." (HR. Ahmad)
Dan semua bentuk zina itu berawal
dari yang namanya pandangan mata, itu sebab dalam Al-Qur'an memerintahkan
kepada laki-laki dan wanita agar menjaga pandangannya (QS. An-Nuur ayat 30-31),
tiada lain mencegah 'kerusakan' yang ditimbulkan dari pandangan yang diumbar.
Wallahu a'lam bisshawab.
Ketika Peduli Namun Diabaikan....
Pertanyaan
Dari: Sri
Ketika kita peduli, tapi d abaikan,,, -_- wdyt...???
Jawaban:
Assalamu'alaikum,
Apapun yang kita lakukan
menghendaki kejernihan niat, menghendaki tidak hadirnya syarat apapun dihati.
Supaya tidak menimbulkan banyak persoalan-persoalan hati setelahnya. Seperti
hadirnya rasa kecewa karena kebaikannya tidak berbalas, atau merasa
kepeduliannya diabaikan.
Ketika hati 'berteriak' ingin
mendapatkan 'apresiasi' dari apa yang telah kita lakukan, itu tandanya hati
kita 'berteriak' meminta kita untuk membenahi niat kita.
Hati kita meminta kita untuk men
Zero kan ekspektasi kita agar ekspektasi kita yang salah letak itu tidak terus
merampas ikhlasnya kita. Fokuskan saja untuk menjadi baik di mata-Nya saja,
karena jika berharap kepada sesama makhluk.. selalu akan ada rasa kecewa.
"Jika kalian berbuat baik,
sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri." (QS. Al-Isra
:7)
"Bagi orang-orang yang
berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahannya. Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah
penghuni surga, mereka kekal di dalamnya." (QS. Yunus :26)
Jangan bosan untuk tetap peduli..
namun harus ingat, bukan tugas kita untuk mengatur atur kesadaran orang lain,
bukan tugas kita untuk memaksa maksa semua orang untuk selalu mengikuti apa
yang kita inginkan.
Seharusnya kitalah yang berterima
kasih kepada siapapun orang yang memberikan kita 'peluang' untuk berbuat baik.
Karena mereka, kita akan menuai pahala, dan karena merekalah hidup ini menjadi
bermanfaat. Yuk, jadi seorang yang nafi'un li ghairihi, menjadi pribadi yang
bermanfaat, bagi diri sendiri dan sesama :)
Idealnya Penjagaan Diri Terhadap Pergaulan dengan Lawan Jenis
Pertanyaan
Dari: Farhan
Assalamualaikum. Gema, bagaimana idealnya penjagaan diri seorang
laki-laki terhadap pergaulannya dengan lawan jenis?
Jawaban:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh,
Idealnya?
Kita adalah makhluk sosial yang
tidak bisa memilah-milah harus berteman hanya dengan yang berjenis kelamin yang
sama, Islampun tidak melarang kita bergaul dan bermuamalah dengan lawan jenis,
asalkan ada batasan yang syar'i. Yaitu tidak berkhalwat (berduaan), tidak
ikhtilath (bercampur baur tanpa ada kepentingan). Inipun berlaku didalam social
media..
Idealnya, saling do'akan dalam
kebaikan. Ada sebentuk teguran untuk selalu menuju kebaikan, saling
mengingatkan, berbagi, perubahan semuanya tertuju karena ALLAH, bukan modus :D
"Dan orang-orang yang
beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong
sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari
yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah
dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya, Allah
Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana." – (QS. 9:71)
Lalu diperintahkan untuk manahan
pandangan bagi laki-laki dan perempuan (QS. An-Nuur 30-31) agar terhindar dari
yang namanya 'kerusakan' yang ditimbulkan dari pandangan yang diumbar. Tentunya
disini satu sama lain harus saling menjaga.. jangan menjadi penggoda ataupun
tergoda
Adalah Shalat Sunnah Qabliyah Maghrib?
Pertanyaan
Dari: Apriani.
sholat sunnah qabliyah maghrib ada tidak kak?atau hanya ba'diyah
saja?lalu, kl sholat sunnah qabliyah/ba'diyah dzuhur boleh 4 rakaat?benar
tidak?
Jawaban:
Assalamu'alaikum, Ada.. hanya saja,
qabliyah maghrib ini tidak termasuk kedalam shalat sunnah rawatib.
Shalat Rawaatib Al Muakkadah yaitu shalat yang terdiri duabelas rakaat dalam
sehari semalam . Inilah yang dijelaskan keutamaanya dalam hadits tersendiri,
yaitu hadits Ummul Mu’miniin Ummu Habibah radhiyallaahu ‘anha beliau berkata
bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah
seorang hamba yang muslim shalat sunnah setiap hari dua belas raka’at selain
shalat wajib, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga".
Ummu Habibah berkata: saya tidak pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib
semenjak mendengar hadits tersebut. ‘Anbasah berkata: Maka saya tidak pernah
meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah. ‘Amru bin
Aus berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits
tersebut dari ‘Ansabah. An-Nu’am bin Salim berkata: Saya tidak pernah
meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Amru bin Aus. (HR.
Muslim no. 728).
Perinciananya ada dalam hadits dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak
meninggalkan dua belas (12) rakaat pada shalat sunnah rawatib, maka Allah akan
bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua
rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah
‘isya, dan dua rakaat sebelum subuh". (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i
no. 1794)
Lalu bagaimana dengan qabliyah maghrib?
Berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi
Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Shalatlah sebelum maghrib dua
rakaat, shalatlah sebelum maghrib dua rakaat, shalatlah sebelum maghrib dua
rakaat (beliau berkata pada kali yang ketiga) Bagi siapa yang mau". (HR
Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi memerintahkan kepada para shahabat untuk
shalat sunnah dua rakaat sebelum maghrib. Bahkan beliau sampai mengulangi
perintahnya sebanyak tiga kali, hanya saja pada kali yang ketiga beliau
memberikan pilihan BAGI YANG MAU.
Menurut al-muhib ath-Thabari, sabda Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam dengan
lafadz: "karaa hiyata an yattakhidzahaannaasu sunnah" tidaklah
berarti bahwa dua rakaat sebelum maghrib itu tidak sunnah hukumnya. Hal ini
karena Nabi tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang beliau sendiri tidak
menyukainya. Bahkan hadits inilah yang menunjukan sunnahnya dua rakaat sebelum
maghrib.
Sedangkan makna dari ucapan Nabi diatas adalah: "Beliau tidak mau kalau
nanti dia dijadikan sebagai “syarii’atan wa thariqatan laazimatan” yakni
syari’at dan jalan yang wajib hukumnya”. Ucapan beliau itu bisa juga menunjukan
bahwa derajat shalat maghrib lebih rendah dibanding sunnat-sunnat rawatib
lainnya. Karena itulah maka mayoritas ulama syafi'iyah tidak memasukannya ke
dalam shalat-shalat sunat rawatib". (Imam Syaukani).
Wallahu a'lam bisshawab.
Cara Berterima Kasih
Pertanyaan
Dari: Febrina Irma Yanti
Assalamu'alaikum, Kak mau tanya menurut kakak cara menyampaikan rasa
terimakasih dari orang2 yg telah berbuat banyak kebaikan pada kita (Tentunya
semua itu atas izin Allah) itu gimana? syukran ka😊
Jawaban:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh, ini yang banyak belum tau..
Berterima kasih atas pemberian atau
kebaikan orang lain kepada kita adalah tanda bersyukur kepada Allah Subhanahu
Wa Ta'ala. Itu sebab, salah satu adab yang paling utama ketika kita mendapatkan
kebaikan atau pemberian dari orang lain, sudah sepantasnya kita mengucapkan
rasa terima kasih sebagai tanda syukur kita kepada Allah.
Artinya: "Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: "Tidak bersyukur kepada Allah seorang yang tidak bersyukur
kepada manusia." (HR. Abu Daud di shahihkan dalam kitab Silsilat Al
Ahadits Ash Shahihah, 1/702).
Dan ucapan yang paling baik adalah
dengan do'a kebaikan untuk orang tersebut:
Usamah Bin Zaid berkata, bahwasanya
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda. (artinya), "Barangsiapa
yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan
mengatakan jazaakallahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka
sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya."
(HR.Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Hibban, dan Al-Bazzar, dishahihkan dalam kitab
Shahih Al jami’, no. 6368).
Syarat Ibadah Dapat Diterima
Pertanyaan
Dari: Riska Kurnia Maghfiroh
Assalamualaikum satria..maaf tanya lagj🙏 knapa
kalau kita ibadah belum tentu diterima tapi kalau berbuat dosa uda pasti dosany?
Jawaban:
Wa'alaikumussalam, Kalau berbuat
dosa sudah jelas, namun Allah Maha Pengampun selama hamba-Nya cepat bertaubat
dan memperbaiki diri. Tetapi dalam perkara IBADAH ada dua syarat dimana jika dua
syarat ini tidak dilakukan, maka ibadahnya tidak diterima. Apa syaratnya?
1. Ikhlas karena Allah
2. Mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam (ittiba')
Kedua syarat tersebut berdasarkan dalil dari surat Al-Kahfi ayat 110 dan juga surat
Al-Mulk ayat 2.
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna dari surat Al-Kahfi ayat 110,
"Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh", maksudnya adalah
mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam). Dan "janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat
kepada Tuhannya", maksudnya selalu mengharap ridha Allah semata dan tidak
berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus
ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam." (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205, Muassasah
Qurthubah).
Al Fudhail bin 'Iyadh ketika menjelaskan mengenai firman Allah dalam surat Al
Mulk ayat 2, "Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih
baik amalnya." Beliau mengatakan, "yaitu amalan yang paling ikhlas
dan showab (mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)."
Lalu Al Fudhail berkata, "Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak
mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan
diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak
akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab.
Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan
dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam."
Dua syarat diterimanya ibadah ditunjukkan dalam dua hadits. Hadits pertama dari
‘Umar bin Al Khattab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan
mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang
hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi,
maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita)."
(HR. Bukhari no. 6689 dan Muslim no. 1907).
Niatpun bukan semata-mata hanya niat baik saja, namun jangan sampai membuat
syariat baru dalam agama yang telah sempurna ini (QS. Al-Maidah ayat3).
Dari 'Aisyah r.a, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa membuat suatu perkara baru (ibadah) dalam agama kami ini yang
tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak." (HR. Bukhari no. 20
dan Muslim no. 1718).
Mengikuti para shahabat (Khulafaur Rasyidin) pun ada perintahnya, maka wajib
bagi kita berpegang teguh kepada Sunnah dan Khulafaur Rasyidin.
Hal Tersulit yang Setiap Orang Rasakan Adalah...
assamualaikum, pak mau tanya hal tersulit apa yang pernah anda
rasakan?? ايفي بر ليانة صفا الترمدى
Wa'alaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh.. pak? mudah-mudah typo :D
Sudah bukan rahasia lagi.. hal yang
tersulit bagi setiap orang itu adalah ketika ditimpa ujian dan musibah. Namun,
apapun bentuk ujian dan musibah yang kita terima, berat atau tidaknya
sesungguhnya bukan orang lain yang menilai bukan orang luar yang mengukur.
Hanya diri kita dan Allah sajalah yang bisa menilai dan mengukurnya. Dan sudah
barang tentu penilaian dan ukuran ini tertakluk pada quwwatu tahammul (kekuatan
menahan beban) yang ada pada diri kita. Dan sudah barang tentu pula quwwatu
tahammul ini berbanding lurus dengan kekuatan iman yang ada dalam diri kita.
Dan kalau saya yang ditanya, saya
tidak bisa mengkategorikan mana yang tersulit. Itu biar jadi bahan muhasabah bagi
diri saya sendiri saja ya?
Salah satu hal keniscayaan bahwa
didunia ini kematian itu sesuatu hal yang sudah pasti. Mungkin ada yang pernah
merasakan ditinggalkan oleh seseorang karena kematian? Saya ingin berbagi
disini, semoga dapat diambil pelajarannya.. contohnya ini --> https://muslimpathway.blogspot.co.id/2016/08/ketika-orang-yang-aku-cintai.html
Sulitnya adalah ketika harus
meng-ikhlaskan saat itu juga, bukan tidak bisa.. namun tidak mudah. Karena yang
terbayang saat itu adalah karena dia ga akan pernah kembali lagi.. dan mungkin
tidak akan bertemu lagi.
Ada yang sampai terpuruk bahkan
menyalahkan takdir, padahal tidak boleh demikian. Harusnya kematian itu
dijadikan sebagai PENGINGAT, bahwa tugas kita di dunia ini masih belum selesai,
sedangkan dia sudah menyelesaikan tugasnya di dunia ini, menyambut keabadian di
kampung akhiratnya. Tugas kita selanjutnya adalah mendo'akannya dan berjuang
dengan hidup kita sendiri agar berakhir dengan baik.
Semua sudah ditetapkan, ikhlas
tidak ikhlas.. ketetapan Allah tidak akan berubah. Bahkan jika kita menyalahkan
takdir, maka kita telah kufur. Semua memang sudah seharusnya di lepaskan, bukan
kah kita hakikatnya memang tidak pernah memiliki apa apa dan juga tidak pernah
memiliki siapa siapa, bukankah semua nya hanya titipan sementara?
Bersyukurlah jika 'sudah diperkaya'
Allah oleh kesempatan mengalami peristiwanya, saya sudah tahu dan sudah
mengenali rasa sakitnya. Kenapa terasa sakit? Itu disebabkan karena kita masih
saja melawan dan terus melawan ketetapan-NYA.
Sudah memahami rasanya jungkir
balik melawan rasa sakit ketika mencoba menahan peristiwa yang sudah seharusnya
terjadi, hidup ini memang sudah seharusnya mengalir,
Let it be, ikhlaskan.. terjadilah semua yang menjadi kehendak-Nya, setelahnya
barulah kita memahami bahwa Ikhlas itu menenangkan bukan? Ilmu ikhlas ini
berlaku untuk apapun :)






