Kamis, 04 Agustus 2016
Tata Cara Ziarah Kubur
Assalamu'alaikum,
Ketika Rasulullah shalallahu
'alaihi wa sallam berziarah, beliau menyampaikan salam kepada ahli kubur,
mendo'akan mereka agar mendapatkan rahmat dan ampunan. Di antara do'a yang
dianjurkan untuk dibaca adalah:
Assalamu’alaikum ahladdiyaari minal
mu’miniina wal muslimiina, wa inna insyaa Allahu bikum laahiquuna wa
yarhamullaahul mustaqdimiina minnaa wal musta’khiriina as alullaaha lanaa
walakumul ‘aafiyata.
"Semoga kesejahteraan
untukmu, wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya
kami Insya Allah akan menyusul, ( semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat kepada
orang-orang yang (telah meninggal) terlebih dahulu diantara kami dan
orang-orang yang akan datang)." (lafazh ini berdasar riwayat Imam Muslim).
Beliau tidak berlama-lama disana,
lalu pulang .... wallahu a'lam bisshawab.
Cara Membayar Hutang Jika Orang yang Kita Hutangi Tidak Ada
Pertanyaan
Dari: Marv~
Assalamu'alaikum
kak Satria, sy mau tanya. Sdh lama sekaliii dan sy baru ingat kalau sy prnh ada
utang sm teman. Sdh miss contact dan jumlahnya jg tdk terlalu byk. Nah baiknya
seperti apa?blh disedekahkan tdk? Trimss
Jawaban:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
minimal ikhtiarnya maksimalkan dahulu untuk mencari :)
Menunaikan hak-hak sesama hukumnya adalah wajib. Sehingga seseorang yang memiliki tanggungan hutang kepada siapa saja, harus berusaha menunaikan hutang tersebut kepada pemiliknya, atau kepada ahli warisnya bila pemiliknya sudah meninggal.
Dan apabila tidak mampu menunaikan kepada pemilik atau ahli warisnya, disebabkan telah berpindah ke negeri lain yang tidak di ketahui, atau tidak mengetahui alamatnya, ata lupa namanya tidak ingat sama sekali, maka hendaknya dia menyedekahkan hutang tersebut kepada orang-orang miskin dengan meniatkan untuk pemiliknya.
Apabila ternyata pemiliknya datang, maka hendaknya dia sampaikan apa adanya. Bila pemilik tersebut ridha maka selesailah tanggungan hutangnya. Namun bila tidak, dia tetap wajib membayarnya. Dan dia mendapat pahala sedekah yang sudah telanjur dia keluarkan, in syaa Allah. Tanggungan hutang orang yang ditanyakan dalam soal ini tidaklah gugur kecuali dengan cara seperti ini.
Wallahu a'lam bisshawab.
(Al Lajnah Ad Daimah Lilbuhutsi Al 'Ilmiyati wal Ifta)
Menunaikan hak-hak sesama hukumnya adalah wajib. Sehingga seseorang yang memiliki tanggungan hutang kepada siapa saja, harus berusaha menunaikan hutang tersebut kepada pemiliknya, atau kepada ahli warisnya bila pemiliknya sudah meninggal.
Dan apabila tidak mampu menunaikan kepada pemilik atau ahli warisnya, disebabkan telah berpindah ke negeri lain yang tidak di ketahui, atau tidak mengetahui alamatnya, ata lupa namanya tidak ingat sama sekali, maka hendaknya dia menyedekahkan hutang tersebut kepada orang-orang miskin dengan meniatkan untuk pemiliknya.
Apabila ternyata pemiliknya datang, maka hendaknya dia sampaikan apa adanya. Bila pemilik tersebut ridha maka selesailah tanggungan hutangnya. Namun bila tidak, dia tetap wajib membayarnya. Dan dia mendapat pahala sedekah yang sudah telanjur dia keluarkan, in syaa Allah. Tanggungan hutang orang yang ditanyakan dalam soal ini tidaklah gugur kecuali dengan cara seperti ini.
Wallahu a'lam bisshawab.
(Al Lajnah Ad Daimah Lilbuhutsi Al 'Ilmiyati wal Ifta)
73 Golongan dalam Islam?
Pertanyaan
Dari: adinda laila putri
Assalamu'alaikum. Satria, aku dapet ini dari teman aku "di akhir zaman, akan ada 73 golongan islam. Dan hanya ada satu yang masuk surga" that's true? Maaf nanya gini, soalnya takut kalau salah serap aku malah ikut yg engga-engga.. Karna setau aku, islam ya islam ._.
Dari: adinda laila putri
Assalamu'alaikum. Satria, aku dapet ini dari teman aku "di akhir zaman, akan ada 73 golongan islam. Dan hanya ada satu yang masuk surga" that's true? Maaf nanya gini, soalnya takut kalau salah serap aku malah ikut yg engga-engga.. Karna setau aku, islam ya islam ._.
Jawaban:
Wa'alaikumussalam,
Haditsnya dari Auf bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi
wa sallam bersabda: "Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, satu
golongan di surga dan 70 golongan di neraka. Dan Nashara telah berpecah belah
menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan satu di surga. Dan demi Allah
yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya umatku ini pasti akan berpecah belah
menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka." Lalu
beliau ditanya: "Wahai Rasulullah siapakah mereka ?" Beliau menjawab:
"Al Jama'ah." (HR Sunan Ibnu Majah, Hadits ini hasan. Lihat
Silsilatul Ahadits ash-Shahihah (no. 1492).
Semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu bertauhid kepada Allah,
sebagai satu-satunya sesembahan atau satu-satunya yg pantas untuk disembah.
Dari Nabi Adam a.s hingga nabi terakhir (Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi
wassalam) semuanya sama, yaitu menyerukan ajaran Tauhid.
"Katakanlah: 'Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan
kepada kami, dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan
anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para nabi dari
Rabb-mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, dan hanya kepada-Nya-lah
kami menyerahkan diri'." – (QS.Ali Imran :84)
Bahwa dari dahulunya eksistensi Allah tidaklah berganti, penyembahan
terhadap-Nya juga tidak berubah. Namun untuk setiap umat, Allah menetapkan
SYARI’AT yg berbeda2, syari’at disini bisa diartikan: tata-cara penyembahan,
aturan2 menjalani kehidupan, mana yang boleh mana yg tidak, dst.
Dari sebelum Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam diutus, mereka yg telah
beriman kepada Nabi yg diutus sebelumnya, masing2 dari merekapun terpecah
menjadi beberapa golongan. Dan disebutkan hanya satu golongan dari mereka yang
masuk surga, yaitu yg beriman kepada Allah (mengikuti seruan).
"Sesungguhnya, orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani
dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman
kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala
dari Rabb-mereka, tidak ada kekuatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka
bersedih hati." – (QS.2 :62)
Ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam diutus, mereka orang-orang yang
ittiba’ (mengikuti) ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
mengikuti Atsar (jejak Salaful Ummah), maka mereka juga disebut Ahlul Hadits,
Ahlul Atsar dan Ahlul Ittiba’. Di samping itu, mereka juga dikatakan sebagai
ath-Thaa-ifatul Manshuurah (golongan yang mendapatkan per-tolongan Allah),
al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat), Ghurabaa' (orang asing, yang
senantiasa memperbaiki (ummat) di tengah-tengah rusaknya akidah), merekalah 1
golongan yang Allah katakan masuk surga.
Makna 'golongan' dalam hadits tersebut bukan yg dikenal dengan NU,
Muhammadiyah, HTI. Persis dst, itu hanya ormas Islam. Namun makna golongan tsb
yang sudah saya jelaskan diatas.
Wallahu a'lam
Ujub dalam Hijrah
Pertanyaan
Dari: salsabilah
Bismillah kak gem, ada yg nanya tp gak tau jwbnnya mngkn bsa bantu....
Assalamu'alaykum, afwan sy sdh mulai hijrah, ap sy slh bila merasa diri ini lbh
baik dr waktu sblm hijrah, krn merasa sdh mengerjakan bbrp hal yg sunnah n ilmu
agama pun lbh meningkat dr sblmnya, ap itu trmsk membangga"kan diri?
Jawaban:
Wa'alaikumussalam,
Jika perasaan itu timbul dengan
tidak merasa lebih baik dari orang lain, itu tidak mengapa. Namun harus sangat
hati-hati, karena sangat tipis bedanya dengan ujub.. Baiknya banyak
bermuhasabah dengan kekurangan-kekurangan diri, dan menyibukkan diri dengan
memperbaiki diri, sehingga tidak memberikan waktu dan juga tidak memberikan
peluang bagi iblis untuk menggoyang niat.
Banyak berdo'a, memohon kepada
Allah agar dijauhkan dari segala godaan dan penyakit hati.. agar niat kita
tetap lurus karena Allah semata. Orang yang berbuat ikhlas akan senantiasa
takut dirinya terkena 'penyakit hati' yang tercela, seperti riya’, sum'ah, ujub
dan takabur.
Salah satu ikhtiarnya adalah
bersungguh-sungguh melawan tipu daya Iblis dan 'memalingkan pandangan' manusia
agar tidak memperhatikan amal-amal shalihnya. Dia akan berupaya keras
meyembunyikan amalnya, dengan harapan, supaya ikhlas amalnya, dan agar Allah
membalas pada hari Kiamat dengan keikhlasannya. Memang pada awalnya berat,
tetapi jika sabar, Allah pasti akan menolongnya.
Selalu ingatkan kepada diri kita
sendiri, amalan kita sangatlah sedikit bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan
dengan hak Allah yang harus kita tunaikan untuk-Nya.
Hukum Menikah Beda Agama
Assalamualaikum bang gema apasih hukumnya orang nikah tapi beda agama?
terimakasih :) DARADA
PRAWIRANATA
Wa'alaikumussalam, bismillah..
Ulama bersepakat, seorang muslimah haram hukumnya menikah dengan laki-laki non
muslim.
Dasar dalilnya dari surat Al-Baqarah ayat 221, "Dan janganlah kamu
nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, wanita
budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.
Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik, (dengan wanita-wanita
Mukmin), sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, budak yang Mukmin lebih baik
dari orang-orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke
neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan, dengan ijin-Nya. Dan Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia, supaya mereka
mengambil pelajaran." – (QS.2 :221)
Sedangkan untuk laki-laki muslim yang menikahi wanita non muslim, para Ulama
berbeda pendapat dengan dasar dalil surat Al-Maidah ayat 5:
"Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan)
orang-orang yang diberikan Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal
pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga
kehormatan, di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu
telah membayar maskawin mereka, dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud
berzina, dan tidak (pula) menjadikan gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir.
sesudah beriman, (tidak menerima hukum-hukum Islam). Maka hapuslah amalannya,
dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi." – (QS.5:5)
Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm, mendefinisikan Kitabiyah dan non Kitabiyah
sebagai berikut, "Yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah orang-orang
Yahudi dan Nasrani yang berasal dari keturunan bangsa Israel asli. Adapun
umat-umat lain yang menganut agama Yahudi dan Nasrani, maka mereka tidak
termasuk dalam kata ahlul kitab. Sebab, Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. tidak
diutus kecuali untuk Israil dan dakwah mereka juga bukan ditujukan bagi
umat-umat setelah Bani israil.”
Menurut Imam Syafi'i, dihalalkannya para shahabat menikahi wanita ahlul kitab
ketika di zaman Nabi dikarenakan pada saat itu masih 'masa peralihan', dimana
mereka dibolehkan menikahi wanita ahlul kitab yang 'beriman' kepada ajaran nabi
sebelumnya. Sehingga wanita-wanita tersebut beriman kepada ajaran nabi Muhammad
Shalallahu 'alaihi wa sallam setelah dinikahi.
Dibolehkannya laki-laki muslim menikah dengan wanita ahlul kitab namun tidak
sebaliknya karena laki-laki adalah seorang imam, dimana seorang istri harus
taat kepadanya dan berkuasa atas istrinya.
Namun pertanyaannya sekarang, masih
adakah yg namanya wanita ahlul kitab zaman sekarang?
Sedangkan Ulama lain tidak mendefinisikan wanita ahlul kitab demikian, sehingga
membolehkan laki2 muslim menikahi wanita non muslim. Namun demikian, wanita
muslimah yang taat kepada agamanya tentu jauh lebih utama dan lebih layak bagi
seorang muslim dibanding wanita ahlul kitab, agar anak2nya pun di didik dengan
akidah yang benar.
Wallahu a'lam bisshawab.
Kapan Pengucapan Subhanallah dan Masya Allah?
assalamualaikum kak, saya ingin bertanya. Apakah benar bahwa ucapan
"MasyaAllah" itu untuk sesuatu yg baik, sedangkan
"Subhanallah" untuk sesuatu yg buruk? terima kasih sebelumnya Daffa Heri
Wa'alaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh,
Bismillah.
Di dalam Al-Qur'an disebutkan, Subhanallah digunakan dalam
mensucikan Allah dari hal yang tidak pantas. "Maha Suci Allah dari
mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan, dan
seterusnya .. Ayat-ayat yang isinya seperti ini sangat banyak. Subhanallah juga
digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal yang harus kita jauhi,
semacam perbuatan syirik..
Contohnya didalam surah Saba' ayat 40-41, dimana
para malaikat menjawab: "..........SUBHAAANAKA anta walii-yunaa min
duunihim bal kaanuu ya'buduunal jinna aktsaruhum bihim mu'minuun", yang
artinya; "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka;
bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu'.
(QS 34: 40-41).
Maknanya, mengungkapkan keberlepasan diri dari hal yang harus
dijauhi.
Lalu mensucikan Allah karena dihinakannya Allah tersebab kita, terdapat dalam
surah Yusuf ayat 108: " Qul hadzihi sabiilii ad'uu ilallahi 'ala
bashiiratin anaa wamaniittaba'anii waSUBHAANALLAHI wamaa anaa minal
musyrikiin" yang artinya: "Katakanlah: 'Inilah jalan (agama)ku, aku
dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah
yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang
musyrik'." – (QS.12 :108)
Yang artinya, lafadz "Subhanallah" itu secara umum digunakan untuk
mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal kurang baik di mana itu tidak pantas.
Jadi "Subhanallah" dilekatkan dalam makna "turun" yang
kemudian sesuai dengan kebiasaan orang dalam Bahasa Arab, me-Maha Suci-kan
Allah dalam menyaksikan bencana dan mengakui kedzaliman diri (QS 68: 29),
menolak fitnah keji yang menimpa saudara kita (QS 24: 16).
Jadi makna dalam rukuk dan sujud pun sama .. mensucikan Allah dari hal-hal
buruk tersebab kita, Subhanallah. it mean Allah is Exalted, He is attributed
with proper Perception and He is Clear from all imperfections.
Sedangkan ketika melihat sesuatu yang baik atau mengagumkan, dianjurkan untuk
mengucapkan "Masyaa ALLAH" dengan dasar dalil:
"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan, tatkala kamu memasuki kebunmu:
'Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billah', (Sungguh atas kehendak Allah semua
ini terwujud, tiada kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu
anggap aku lebih sedikit darimu, dalam hal harta dan keturunan," – (QS.18
:39)
Disamping bacaan di atas, ketika kita melihat sesuatu yang mengagumkan dimiliki
oleh orang lain, kita dianjurkan untuk mendo'akan keberkahan untuknya. Misalnya
dengan mengucapkan, "Baarakallahu laka fiih", semoga Allah memberkahi
anda dengan apa yang anda miliki.
Apabila kalian melihat ada sesuatu yang mengagumkan pada saudaranya atau
dirinya atau hartanya, hendaknya dia mendoakan keberkahan untuknya. Karena
serangan ain itu benar. (HR. Ahmad 15700, Bukhari dalam at-Tarikh 2/9 dan
dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Wallahu a'lam bisshawab.
Menjadi Manusia yang Ikhlas
Assalamu'alaikum ka, mau mnta cara biar ikhlas itu gmna? Keluarga ku abis kena musibah kecelakaan mobil yang harus mengganti rugi 2 mobil, dan bapa aku mau belajar ikhlas tapi blm bisa , pendapan kaka gmna? Suci Amalia
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Innalillahi wa innailaihi roji'uun..
Bagaimana cara agar menjadi manusia yang ikhlas?
Saya pun selalu mengingatkan kepada diri sendiri bahwa jika aku berkehendak, kamu berkehendak, dan ALLAH berkehendak.. pastilah kehendak ALLAH yang terjadi.
Ikhlas tidak ikhlas, kehendak Allah lah yang akan terjadi..
Dan ini ...
Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman kepada nabi Musa as " Wahai Musa! Tidak ada yang paling aku cintai dari makhluk yang pernah aku ciptakan kecuali hambaku yang mukmin dan sesungguhnya ketika aku menimpakan bencana kepada dia, sesungguhnya terdapat kebaikan bagi dia di dalamnya serta ketika aku menghalangi dia dari ( mendapat ) sesuatu itu juga karena terdapat kebaikan baginya dalam hal tersebut karena sesungguhnya aku lebih tahu apa yang paling maslahat bagi hambaku… "
Sabar dan ikhlas adalah hal yang tidak dapat dipisahkan, tanpa ikhlas kita tak akan mampu sabar. Dan tanpa sabar, bagaimana mau ikhlas? Sulit? memang sulit, namun bukan berarti tidak bisa.
"Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu), supaya kamu jangan berduka-cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong, lagi membanggakan diri." – (QS.57: 22-23)
Ingatkan kembali bahwa diri kita sendiripun bukanlah milik kita, namun milik-Nya dan pasti akan kembali kepada-Nya. Segala apa yang kita dapatkan pun adalah karena atas karunia dan izin-Nya. Ketika musibah atau ujian datang, kita juga sedang diberi kesempatan untuk bisa menilai diri sendiri apakah kita adalah manusia yang sudah mampu ridha kepada setiap ketetapan-Nya atau belum?
Jika masih selalu dominan rasa kecewa atau belum mampu ikhlas yang hadir, maka saatnya kembali 'masuk ke dalam', benah benah hati kembali...




